September 19, 2020

Meadowlandscc.com

Berita Kriminal Dari Belahan Dunia

Kriminalitas Sudah Menjadi Ikon Kebanggaan Dalam Sebuah Pergaulan

Meningkatnya aksi kriminalitas di kalangan pelajar serta emaja di Surabaya merupakan lsaha satu bentuk kenakalan remaja yang bergeser ke arah kriminalitas. Mengenai hal seputar ini telah ditegaskan oleh Prof. Dr. Bagong Suyanto, sang pakar Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (Fisip Unair).

“Artinya ini bukanlah hanya sekadar penyimpangan tetapi juga sudah masuk dalam kasus wilayah kriminal. Sehingga aksi yang dilakukan oleh para pelajar tersebut juga telah menunjukkan bahwa adanya pergeseran yang bisa disebut sebagai tindakan kejahatan,” ucap terang Bagong Suyanto melalui sambungan telepon, pada tanggal Selasa, 18 Agustus 2020.

Dimana adanya tren pergeseran aksi kriminalitas pelajar, menurut Guru Besar Fisip Unair itu disebabkan karena adanya momentum pandemi corona virus atau Covid-19 yang memicu. Artinya bahwa adanya latar belakang keluarga yang mendorong mereka untuk berbuat kriminal seperti ini.

Tidak sedikit para pelajar atau kalangan anak kecil atau pelajar yang memulai aksi penyerangan dan juga kriminalitasnya di tengah masyarakat. Hal ini sungguh meresahkan seluruh rakyat yang ada. Anak kecil senang sekali mengikuti gaya atau trend terkini yang sering dilakukan oleh teman-teman sebayanya. Sehingga membuat tingkat kriminalitas ini semakin meningkat dan telah menjadi hal kebiasaan yang sering dilakukan olehnya dan juga teman sebayanya.

“Istilah kriminologi disebut juga sebagai kejahatan instrumental, yaitu kejahatan yang motifnya ialah ekonomi. Jadi anak-anak juga akan dipengaruhi oleh gaya hidup pergaulan komersial. Oleh sebab itu, mereka memilih memangsa ibu-ibu (korban) untuk dapat lebih mudah memperoleh hasil,” ucapnya.

Lebih jauh, pergeseran tindakan kriminal pelajar juga bisa didorong karena merupakan simbol kebanggaan di dalam pergaulan. “Seperti anak bonek Suroboyo yang lebih bangga aksinya lebih bonek dari temannya. Misalkan jika temannya melempar batu kecil, dia melempar batu yang lebih besar. Lebih terdorong melakukan hal berbahaya dan berisiko karena simbol jagoan kepada teman lainnya,” ucap Bagong menyampaikan.

Oleh sebab itu, Bagong Suyanto juga akan mendorong ke aparat kepolisian wajib bertindak tegas melumpuhkan (menembak, red) terhadap penjambret serta para pelaku kejahatan jalanan lainnya. “Ini masuk ranah adu stamina serta sikap tegas polisi yang mampu menghadapi keberanian anak-anak dan remaja yang terlibat kriminalitas,” ucapnya.

Menurut Bagong, bahwa pelaku jambret sekarang ini makin terpola. Selain semakin bermain kasar, mereka juga akan beraksi dengan cepat. Jika tidak dengan hal tersebut, maka harus menerima risiko berbahaya yaitu akan tertangkap hingga diamuk massa, dan juga kemungkinan bisa mati sia-sia.

“Pelaku jambret dan pembegal ini juga tidak hanya merampas tas atau motor korbannya saja. Jika kepepet, mereka akan menendang atau bahkan melukai korban dengan senjata yang tajam dan pastinya berbahaya. Pelaku juga tidak akan peduli sasarannya baik mati ataupun terluka. Sehingga ketegasan aparat pihak kepolisian harus dibutuhkan dan wajib melumpuhkan pelaku guna memberi shock terapi,” ucap kandasnya.

Bagong Suyanto juga telah menghimbau kepada polisi supaya lebih mampu meningkatkan serta rutin melakukan patroli jalanan karena hal itu lebih penting. “Kami juga meminta patroli jalanan lebih ditingkatkan dengan mengamati titik-titik rawan kejahatan. Selain itu, masyarakat juga harus lebih mewaspadai dan juga menghindari lokasi yang kerap terjadi aksi kriminalitas,” ucapnya.

Oleh sebab itu, pentingnya sebuah peran orangtua dalam pertumbuhan anak di tengah pergaulannya. Karena hal ini akan membahayakan dan pastinya merugikan sekitar.